6 Apr 2013
1 Apr 2013
Terbuang Rinduku
Ada sekeping penat tertawa terbahak,,
datang lagi sebutir resah tersenyum licik..
Tak ada kelembutan sama sekali..
Demi Tuhan, ini menyebalkan..
Sesak terhimpit rindu menjepit..
Tak bisa tenang sejenak saja,,
malah semakin mencekik...
Tak berkesudahan..
Tiada tau sampai kapan..
Terbang ku ingin..
Berlari..
Bergerak..
Beranjak..
Pergi sejauh mana ku bisa..
Hindari airmata yang 'belum' reda..
Penghibur hati yang malang,, sudah sedekat apa langkahmu datang..?
Tolong aku sebelum tenggelam..
Maaf ku tertuju pada lembar-lembar kertas terbuang..
Selalu ada kata itu di badannya,,
kemudian penat ku melusuhkan, bahkan menghancurkan kesuciannya,,
sampai mereka tiada akan pernah kembali sempurna...
Maaf..
Maaf..
Sandar haru didinding asa,,
hilang cahaya beranjak memudar dalam padam...
Makian halus menampar wajah,
minta segera sadarkan diri,,
lalu kembali ke daratan..
Berharap kisah pilu ku enyah,,
senasib lembaran-lembaran kertas bertitel rindu,,
terbuang jauh sampai hancurlah itu dikoyak jahatnya waktu...
Oleh : Dennis
28 Mar 2013
Aku Mencintaimu Lumut Hijau
Mematut diri bercermin bening mata air
keruh rangkaku sang hulu waktu
perlahan menjernih
kuhirup dalam embun pagi diantara lumut hijau
lumut hijau yg memeluk lembut tebing cadas
bergantung takzim di kaki Arsy Sang Maha
Di petilasan zaman
terdesak cinta dan rindu
ku seruk hatiku yg terjatuh
carut dan legamnya kini berona serupa lumut hijau
dipeluk hangat lumut, rapat penuh kasih
Lazuardi merah delima
khazanah membuka penuh pesona
walau ku tertinggal seribu tahun ...
walau kuterpisah jutaan tombak ...
kurasakan hadirmu di dada ini begitu dekat
menyatu bersama degup dan detak
mengalir udara setap hirupan dan helaan ...
Aku mecintamu lumut hijau ....
Oleh : illa
keruh rangkaku sang hulu waktu
perlahan menjernih
kuhirup dalam embun pagi diantara lumut hijau
lumut hijau yg memeluk lembut tebing cadas
bergantung takzim di kaki Arsy Sang Maha
Di petilasan zaman
terdesak cinta dan rindu
ku seruk hatiku yg terjatuh
carut dan legamnya kini berona serupa lumut hijau
dipeluk hangat lumut, rapat penuh kasih
Lazuardi merah delima
khazanah membuka penuh pesona
walau ku tertinggal seribu tahun ...
walau kuterpisah jutaan tombak ...
kurasakan hadirmu di dada ini begitu dekat
menyatu bersama degup dan detak
mengalir udara setap hirupan dan helaan ...
Aku mecintamu lumut hijau ....
Oleh : illa
12 Mar 2013
Aku Yang Kini Tak Lagi Bercerita
11 Mar 2013
Dy, Dengarlah...
Ini aku,yang dulu berjalan bersamamu.....
Sempat ku raih jemarimu..
Ingatkah kau masa itu....
Ini aku,yang terdiam di sampingmu
Yang pandai menyimpan rindu
Ingatkah kau detik itu...
Ini aku,yang menatap hening sinar matamu
Yang berharap kau punya rindu untukku
Ingatkah kau suasana itu..
Dan ini aku,yang hanya tersenyum kepadamu
Saat kusadar aku bukan pilihanmu
Kau pasti ingat tentang itu
Ini masih aku,yang menyendiri dalam sunyi
Mencoba memaafkan diri sendiri
Mungkin Kau tak pernah tau tentang ini
"DY" sebenarnya aku rindu
Oleh : Quart Masih Supratman
Kebesaran Jiwa
Setelah badai,,
semoga aku menjadi sebagian dari mereka yang bijak yang telah mengerti tentang kebesaran jiwa...
Kemampuan hati menerima yang tak diminta,,
kesanggupan nurani ikhlasi yang tak dikehendaki..
Seperti kalimat seorang kahlil gibran...
"mereka yang berjiwa besar, memiliki dua hati..
Yang satu untuk menangis,,
dan yang satu untuk bersabar.."
Berharap keduanya tiada akan pernah terlepas dalam bungkus raga,,
menyatu terikat,,
sebagaimana sayap yang berpasangan, ditubuh se-ekor merpati....
Oleh : Dennis
9 Mar 2013
Kuberikan Dunia
Maret kali ini masih serupa Maret dua tahun kemarin, kurasa.
Namun sakit di hatiku tak ada lagi.
Lenyap bagai debu yang tersiram hujan yang jatuh mulai minggu ke dua tahun ini.
Aku mengingatmu.
'' Tak ada lagi cinta buatmu, Mas,'' katamu.
Mataku lekat mencoba belajar menujum matamu.
'' ...aku mencintainya...'' lanjutmu.
Gambarkan perjalanan asing buatku di depan.
Hanya itu.
Aku meninggalkanmu bersama hatiku yang terserak entah kemana di berandamu.
Setahun lewat setelahnya.
Bertubi-tubi kabarmu mampir di sini.
Kekasihmu batal menyunting setelah kecelakaan itu nyaris mengubah seluruh sempurnamu di matanya. Akibat benturan hebat, engkau buta tiba-tiba.
Ahh..., untuk mengingat sepotong senyumku saja, engkau mungkin tak lagi bisa.
Maret kali ini,
aku yakin,
engkau masih hangat meski hujan kali ini masih turun juga.
Kuharap...
Setidaknya mata yang kuberikan setahun lalu telah berfungsi untukmu.
Ya, setidaknya cintaku telah memberikan dunia ini kepadamu...
Oleh : Langit
Semoga Kau Tak Tuli
Nada gitar lentik terpetik..
Senada biola tergesek lembut..
Panorama hati tanda simponi yang indah..
Rajutanku mungkin terlalu kusut untuk dikenang..
Kamu bahkan tak bisa melihat bentuk...
Cuma sekedar merasa kalau itu lembut..
Tiada tertulis rasa ini mengalun...
Bulirnya jernih...
Suaranya sejuk..
Bening bagai tetes airmata seorang bayi...
Kelak ia memanggilmu...
Mempersilakan mu untuk minum,,
mandi,,
atau sekedar berbasuh...
Inilah telaga ku...
Bukan telaga kautsar yang memang airnya lebih putih daripada susu,,
dan manisnya lebih manis daripada madu...
Telaga ku telaga syahdu...
Mungkin cita-cita ku sedikit konyol...
Hanya sekedar ber-angan bisa lantang dan tegas sebut nama mu dalam ijab qabul ku kelak,,,
tapi itu jujur...
Dan bila lembah mandala wangi disana lebih memikat mu,,,
ku harap itu lebih indah..
Telaga ini tetap tenang...
Menunggu seseorang pulang,,,
sampai tiba waktunya mengering..
Semoga kau tak tuli,,,
bahwa jauh diluar sana,,
ada seseorang yang tetap ikhlas mengingat mu,,,
bahkan ketika dia tau, dia telah DILUPAKAN....
Oleh : _Aku_
8 Mar 2013
2. Participants Sayembara Tarian Penaku (tema) "Hujan"
10. Nur Laila Faizati
"Dalam Rintik Hujan"
Aku bukan Sapardi Djoko Damono
aku bukan juga seorang Chairil Anwar
bukan pula Ebiet G Ade
aku bukanlah pujangga
aku bukanlah penyair
tapi aku hanyalah manusia biasa
yang akan mempersembahkan
bait-bait kata dalam lubuh hatiku
Dalam rintik hujan
Tak ada rmbulan tersenyum padaku
Tak ada bintang menemani malamku
aku seorang diri dalam kesepian yang sangat
Dalam rintik hujan
Tak ada mentari menghangatkanku
Tak ada awan mempercantik hariku
Hanyaku seorang diri termenung dalam kebosanan
Dalam rintik hujan
Aku merindukanmu
Karna kau tak datang disisiku
wahai rembulan, wahai bintang
Wahai mentari, wahai awan
Lakaslah datang, aku menunggumu
Dalam rintik hujan
Aku hanya terdiam
Terdiam dan hanya terdiam
Tak ada yang bisa kulakukan
Dalam rintik hujan
cepatlah pergi....
Aku benci padamu
Karnamu hariku berantakan
Dalam rintik hujan
kenapa kau tak pergi jua
karnamu aku tak berdaya
11. Ryuga Kamijou
"Hujan"
ketika Ku diam dan termenung..
Terima kasih kepadaMU ..
"Dalam Rintik Hujan"
Aku bukan Sapardi Djoko Damono
aku bukan juga seorang Chairil Anwar
bukan pula Ebiet G Ade
aku bukanlah pujangga
aku bukanlah penyair
tapi aku hanyalah manusia biasa
yang akan mempersembahkan
bait-bait kata dalam lubuh hatiku
Dalam rintik hujan
Tak ada rmbulan tersenyum padaku
Tak ada bintang menemani malamku
aku seorang diri dalam kesepian yang sangat
Dalam rintik hujan
Tak ada mentari menghangatkanku
Tak ada awan mempercantik hariku
Hanyaku seorang diri termenung dalam kebosanan
Dalam rintik hujan
Aku merindukanmu
Karna kau tak datang disisiku
wahai rembulan, wahai bintang
Wahai mentari, wahai awan
Lakaslah datang, aku menunggumu
Dalam rintik hujan
Aku hanya terdiam
Terdiam dan hanya terdiam
Tak ada yang bisa kulakukan
Dalam rintik hujan
cepatlah pergi....
Aku benci padamu
Karnamu hariku berantakan
Dalam rintik hujan
kenapa kau tak pergi jua
karnamu aku tak berdaya
11. Ryuga Kamijou
"Hujan"
Tetesan air yg jatuh ke bumi..
membasahi seluruh alam..
tetesan demi tetesan air berjatuhan..
kepingan kepingan jalan kehidupan dilewati..
ketika Ku diam dan termenung..
melihat Air yang jatuh ke bumi...
betapa sejuk dan indahnya..
Tetesan Air Hujan ini..
Terima kasih kepadaMU ..
Yang Telah memberikan Air bagi Kehidupan..
12. Tiwin
"Hujan"
Setiap tetesnya melambangkan duka seperti air mata.
Setiap titik volume besarnya dapat menjadi rejeki bagi jangkar ladang sang petani.
Setiap hentakannya yang jatuh ke bumi membuat suara yang melamunkan pandangan tiap-tiap orang
Jika saja dapat kubawa.
Jika saja dapat kupegang dengan jari-jemariku.
Jika saja dapat kutampung dalam kubah telapak tanganku.
Memandangnya.
Menangisinya.
Menggabungkan dengan hujan air mataku.
Hanya agar air mataku berbaur dengan air hujan tersebut.
Menunggu hingga kering tak berbekas dan hanya meninggalkan aroma luka.
Terima kasih yang kuucapkan kepada Alam.
13. Khanza Sang Musafir
"Hujan"
Hujan saat itu
12. Tiwin
"Hujan"
Setiap tetesnya melambangkan duka seperti air mata.
Setiap titik volume besarnya dapat menjadi rejeki bagi jangkar ladang sang petani.
Setiap hentakannya yang jatuh ke bumi membuat suara yang melamunkan pandangan tiap-tiap orang
Jika saja dapat kubawa.
Jika saja dapat kupegang dengan jari-jemariku.
Jika saja dapat kutampung dalam kubah telapak tanganku.
Memandangnya.
Menangisinya.
Menggabungkan dengan hujan air mataku.
Hanya agar air mataku berbaur dengan air hujan tersebut.
Menunggu hingga kering tak berbekas dan hanya meninggalkan aroma luka.
Terima kasih yang kuucapkan kepada Alam.
13. Khanza Sang Musafir
"Hujan"
Hujan saat itu
ya aku ingat...
tetesannya masih basah di jiwaku
masih menunggu
aku masih tetap menunggu
menunggumu untuk mendung bercerita lagi padaku
terserah....
terserah kau mau bilang apa
hujan hari itu memang tak deras
namun cukup untuk menambah nyeri di lukaku
oh tidak...tidak...
aku tak menyalahkanmu
semua adalah jalan takdir
hanya saja ....
saat itu kau yang di sini
14. Freeze Fryyz
"Air Gelap"
Air yang berkilau dalam gelap,
Relakah kau beri ku jawaban,
Dari satu dua pikiranku.
Air yang berkilau dalam gelap,
Tiadakah kau lihat masa laluku,
Waktu yang terukir indah,
Dibawah angin yang membelah air.
Air yang tak jua merenggang,
Kau hancurkan tangisku,
Kau hujani air mataku,
Sekarang, tidak bisakah kuhentikan,
Melihat masa lalu,
Menghapus air mata,
Menjauh dari rasa sakit..
Air yang berkilau dalam gelap,
Bisakah kutanggalkan pikiranku,
Dan menari dibawah kedatanganmu..
Langganan:
Postingan (Atom)







