Tampilkan postingan dengan label Puisi Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Sedih. Tampilkan semua postingan

10 Sep 2016

Rindu Masa Lalu

Sesekali, aku rindu pada sesuatu yang telah dibawa angin.
Ditenggelamkan dingin,
Dibaluri sepi,
Diasingkan waktu.
Berharap pada sesuatu yang kutinggalkan.
Sesuatu yang lebih hening dari suara hati.
Yang lebih syahdu dari melodi,
Yang lebih cerah dari matahari.
Tentang senja dan ujung ilalang.
Ia tau bagaimana rasanya melihat indah,
Tanpa bisa menggapai.
Menitipkan pesan pada udara,
Semoga kerinduannya bermuara.
Lalu,,,
Apa benar cinta memang sudah hilang?
Tanya ia pada lembayung bisu.
Kita penah merekam jingga langit.
Membunuh waktu paling haru,
Karna kita tau,
Semuanya hanya bagian hari yang pasti beranjak.
Kau dan aku lebur dalam diam.
Menyimpan cerita masing-masing.
Entah dilepaskan satu-satu,,,
Atau tersimpan di tempat terbaik yang pernah diciptakan Tuhan;
Hati terdalam.
Inginku,
Senja dan ujung ilalang tetap ada.
Menjadi pengantar petang,
Menjemput rindunya dalam mimpi panjang.
September, hari ke-3.
_aku_

21 Des 2014

Jalan kepedihan


Kafka,,,
Bukankah diary sudah disunting debu ?
Setebal sesak,,,
Dimana Seseorang hanya berhias rindu di sepertiga hidupnya.
Hanya seorang penyair yang tau,

Sejauh apa airmata jatuh.
Ketika kata-kata serupa anafora,
Maka,,,
Kepedihan adalah lempung terpasung,
Yang luruh diatas kertas.
Bukan waktu, atau kita yang lebih pintar membuang perasaan.
Tapi,,,
Takdir.
Engkau sosok murni yang melenggang bebas dari iblis,
Sementara aku,
Kelana yang berjalan via dolorosa.
Perihal keabadian,,,
Mungkin benar.
Sesuatu yang palsu itu memang kekal.
Selayak mawar terakhir berwujud replika.
Teatrikal perenung,
Menggambar paras dengan tinta dari gerimis.
Tak bernama,,,
Seperti kursi tua yang alih jadi kayu tanpa bentuk.
Tak berdetak.
Sampai Seseorang yang dicintai datang,
Memberi arti.

_aku_

19 Apr 2013

Tuhan Ku Tagih



P
edih mnyelimutiku...

saat Tuhan mengambil apa yg pernah ku anggap "milik"
sakit...rasanya tak berujung..
tangispun begitu renyah tuk pecah..
ku tagih janji-Mu, namun tak kunjung Kau jawab..
terpuruk...di titik yg tak bernilai..
lama....
lama....
bahkan teramat sangat lama..

hingga jam dinding tuaku..ribuan kali berputar,
melihatku masih sama seperti ini...
ratusan lembar kertas kalender pun telah ku robek...

Tiba hariku di tanggal ini.. di hari ini..

dimana tanya akan semua janji-janji-MU
kini terjawab sudah..
"Kau takkan mengambil apapun dariku,kecuali Kau akan menggantinya dg yg lebih indah"
yah...

ribuan bintang mndekati ragaku yg tak berseri lg..
menghujamiku dg cahaya terang...
menikam jauh ke dalam pupilku..
hingga aku terjaga dari penantian yg hampir saja ku telan..

tapi ragaku kian lelah...berontak...
tak bisa sedikit menunggu lebih lama lagi..

Oleh : Alone at last

5 Mar 2013

Debu


Jikalah benar cinta telah merobek-robek sisa angin
lalu lutut siapa yang mesti gemetar
menghantar doa-doa
di subuh buta?

Jikalah benar rindu telah
melebamkan kata paling akhir

Lalu bening siapa yang meratap lunta
bergantang-gantang diperah pinta?

Sehangat tetas janji
sebentang batas tepi

Aku hanya serak menyeru
lalu sirna serupa debu...

Oleh : Langit

3 Mar 2013

Selamat Jalan Sobat...


Tak pernah bisa sempat kau titip ceritamu,
Pada siapa saja, sekali-pun padaku,
Semua kau benamkan dalam empedu,
Menyusun hari-harimu pada parsel bisu...!

Dulu, saat pinangan angin kemarau lalu,
Membuncah-buncah hingga sampai menguliti bungkammu,
Rindu padang hijau yang kau ceritakan bagai peluru,
Hanya berdesir, setelah itu lenyap dalam pijakan waktu,

...Kini kau pergi lebih dulu,
Ber-sua maut di ujung pulau itu,
Torehkan goresan panjang pada kitab berkilau,
Bersama cintamu, -cintaNya padamu...!

....Selamat jalan, sahabatku...!
Kita 'tlah banyak berguru,
Dalam diam-mu, dalam senyum-mu,
Semoga engkau menemu,
Rengkuhan Dzat yang tak pernah putus menyayangimu...!

Rest in peace......

Oleh : -Langit-

Ku Kembalikah "Surga" mu


Aku menatap mu dalam-dalam..
Seperti ada yang ingin aku temukan..
Tak pernah berubah..
Mata ku tetap tajam sebagai sepasang mata yang pernah bersamamu..

Lamat-lamat kau beralih..
Pertama, jelas..
Kemudian seperti mozaik,,,
lalu abstrak..
Terakhir,, legam tak berbinar.

Surga..?
Hahaha... Nampaknya kita pernah membicarakan itu..
Disuatu petang,, ketika sabit malu memerah wajahnya,,,
melihat kemesraan kupu-kupu muda yang baru lepas dari cangkang kepompong lugu..

Yea... Itu surga kita..

Saat kepolosan memimpin perjalanan,,
ketika keterbukaan menjadi prinsip sederhana..
Segalanya indah..

Kali ini,, tak ada lagi 'surga' kita..
Yang ada cuma 'surga' kalian..

Menangislah batin dikandung realita..
Bahkan,, mimpi terindah pun akan berpihak pada kesakitan ketika tersadar..

Andainya titian harus dilaksanakan,,
maka, ku kembalikan 'surga' mu..!!
Biar semakin indah dan sempurna 'surga' kalian..

Lalu aku tetap memiliki dunia ku,,
meski tiada bernuansa surga,,

Seperti ketika aku bersamamu...

Oleh : _aku_

21 Feb 2013

Bayangmu Dalam Cermin

Di setiap tetes yang mengalir,,
telah ku titipkan butiran butiran perih menggumpal,,,
menyambut luka pada asa ,,
pada setiap rongga masa yang berlaku,,
di sana telah tertitis rindu atasmu,,
tau kah engkau. ..
Andai dapat kau rasakan
teriakan ku yg menggema pada setiap dinding alam yang berayun
melambaimu dalam tangis,,
telah ku sadari,,
retakan cermin itu membuatku rapuh,,
menggores pada setiap rasa yang mendaging,,
kasih,,,,
maaf,,,kali ini langkahku menariku ,,
meninggalkanmu dalam bayangan cermin.

Oleh :
Susy Maniez

19 Feb 2013

Kejora...


Di ujung rindu aku berteduh,
menapak bumi pada kolong langit,,
sempurna ku meniti sa'at gelap menghampiri,,
tiada apa dapat ku kata,,,
ketika sepi itu mendekati,,
oh ,,,Tuhan
Kau utus gerimis kepada ku,,,
pada selah waktu yang tak berujung,,,
mendekap ku dalam tangis,,
sa'at hendak ku melukis ,,
namun,,,,
sebuah wajah telah terkikis,,
 
Oleh :
Susy Maniez

17 Feb 2013

Puisi Ranting Untuk Daunnya


Selalu ku amati rasa cinta dalam keusangan..
Harmonis, sesuai alur takdir..

Adalah rasa cinta debu pada kaca..
Aku sangat tau itu..

Lantas, bila kebencian telah ditulis peri tertuju kurcaci,,
kenapa rindu lagi-lagi mengganggu keyakinan hati untuk melupa ?

Seperti terlalu cepat dia ada..
Lalu pergi seketika..
Padahal tak pernah ada rencana untuk bertemu dan terpisah antara ranting dan daun..
Hanya musim yang tau..


Yea..
Aku sang ranting yang berpuisi..
Bait yang tertuang adalah melodi tak berbunyi,,


ini tentang kemana daun dihempas angin..?
Atau kemana diri dihempas sepi..

Serpih-serpih gemintang jatuh mengelabuhi mata untuk berkata mimpi yang masih ada..
Aku tau aku sedang didalamnya,,
sangat jelas..


Ketika aku harus berjalan dalam gelap,, sudikah mimpi menjawab rindu..?


Tuhan,,
kelana sejauh apa..?
Bertanyalah hati pada yang punya cinta..

Kesunyian ini terlalu indah..


Daun ku,,
berserilah selepas aku patah..
Aku tak sanggup menggenggam mu lagi..

Aku tau, kita pernah punya mimpi menua bersama..
Sampai pada waktunya, terlerai kepal jemputan takdir..

Bukan salah angin..
Tapi salahku yang ketika badai mengoyak mu dari genggaman ku,,,
aku hanya bisa melihatmu terlepas..


Terlepas Jauh,,
tak lagi tergapai..


Oleh :
Dennis X-Fals Liverpudlian

15 Feb 2013

Kerinduan Embun



Selalu terdengar minor nada di rimba..
Aku bisa pahami ada kesedihan..
Tiap bait perpisahan dirangkai lembut,,
ucapan embun menyebut daun..
Tinggalkan nyeri pada tiap helainya..

"Jika kamu merindukan sejuk,, tunggu kehadiran pengganti ku esok..!!
Dia akan membelai mu,, walau belaian itu tiada pernah sama dengan apa yang ku berikan..

Jagalah kenangan ku..!!
Karna aku tiada akan pernah kembali mengucap salam pada ranting, kemudian menyayangimu diujung pagi.."

Embun bersuara lirih..
Dihatinya ada kecupan daun tepat ketika mereka saling melambai ditepian..
Lalu pergilah embun memeluk tanah...

"Aku tiada pernah lagi merasakan sejuk yang sama..
Senyum yang sama..
Kebersamaan yang sama..
Dan cinta yang sama daripada yang telah kau tinggalkan...

Tapi ketika hari itu datang,, mungkin penggantimu akan menjelaskan betapa tak abadinya hidup.."

ucap daun dalam kerinduan..

Andainya senja serupa syahdu pagi,,
akankah embun datang sebelum aku pekat...??

Ingatlah embunku,,
mimpiku, tawaku, rinduku, mengepul dalam waktu yang tinggal kenangan..
Oleh : 
Dennis X-Fals Liverpudlian