Tampilkan postingan dengan label Puisi Ungkapan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Ungkapan Hati. Tampilkan semua postingan

1 Jan 2015

Seribu bangau kertas


ia terbang meski tak berkepak..
Tergantung tinggi..
Kabarkan Sisa indah kemarin,,
Diteruskan angin..
Yang memang tak sesempurna yang semestinya..

Dasar hati, lunglai berjalan..
Diam..
Entah..
Tanya..
Sungguh bernasib tak seseri teratai ditengah danau..
Sebab,,
Terlena-Lena angan jauh terawang,,
Lupa jasad...

Waktu Jua yang bakal beri tau..
Dikubang mana sang bangau kembali..
Untuk singgah tiada Pergi,
Persis seperti kisah dalam pepatah..

Andainya kubang itu disini, dihati ku,,
sungguh,, telah ku tampung butir-butir air putih..
Yang tiada keruh meski debu-debu liar hinggap ditepinya..

Kendati berkabut,,
Seribu bangau kertasku tetap tersenyum,,,

Membawa seribu pertanyaan,
dimana untuk kesekian kali,,
Kesejatian cinta dipertanyakan...!!

_aku_

21 Des 2014

Untuk si pelukis tangis


Sajak ku tak punya etika.
Ia lancang.
Lantaran bicara sebuah nama,
Yang abu kremasi-nya sudah dingin,,,
Bercampur serpih arang.

Barangkali kata-kata tak pernah durhaka.
Ia tahu apa yang Harus ia katakan.
Persoal bedebahnya rindu terpendam.
Namun sebatas eja huruf-huruf.
Yang bahkan aku sendiri tak tau,,,
Dia berada Pada bait ke berapa.
Puisi ku ambigu.
Lantas,,,
Apa rindu hanya serupa taksa ?
Sebab engkau hanya nisan pualam,
Yang selalu ku kunjungi dalam syair.
Keabadian hanya pengantar lelap.
Kata penghibur,,,
pemanjang usia romantika sepasang kekasih,
Yang masih ingin bahagia.
Karna sejak dalam mimpi kemarin,,, Aku tau,
Tak ada yang benar-benar kekal.
Kecuali mengenang sebuah kepergian.
Engkau, pagi dengan penuh bekas kecup embun.
Ada satu tetes yang berbeda yang jatuh ditanah retak.
Tatkala ia jatuh,,,
Pasti ada sekeping nyeri teramat,
Yang berkata selain lewat tinta,,,
Airmata.
Dalam setiap musim gugur,,,
Pasti ada selembar daun jatuh yang tidak terbawa angin,
Untuk Hilang,,, untuk menua dan kering, Jauh dari rantingnya.
Sebagaimana bahasa para penyair,,,
Tolong bawakan aku musim-musim lain!
Dimana pelukan hangat,
Selalu jadi alasan imaji ku untuk pulang.
Hujan pukul dua.
Untai rindu berjelaga.
Berdiri di altar perenung.
Mempersembahkan kasih sembunyi-sembunyi.
Ikhlas meng-eja luka,,,
Se-ikhlas doa-doa nya,
Teruntuk si pelukis tangis.

#‎
Jakarta‬
, 18 Desember 2014.
_aku_

6 Apr 2013

Langit Kelabu


Masih menjadi angin yang tenang..
ketika ku berdiri di tepi keheningan..
di kala ceriaku mulai meredam..

Aku yang kini masih terdiam..
menunggu secercah cahaya menyinari wajah ini..
hingga langit kelabu..
dan aku masih berdiri disini..

Mungkin terlalu takut..
mungkin terlalu nyaman..
dan langit itu masih kelabu..
saat ku belum juga berpindah..
menjadi angin yang bahagia..

Oleh :
GG-nonk Thedevil's Akira-kin

6 Mar 2013

Kado Untukmu

Dari jemari ku menari,,
Merayap membentuk sajak,,,
Mengukir di bentang hamparan,,
Terangkai sejuta kesan,,
Gemuruh langkah mengayun ,,,
Ketika bait-bait nafasku memburu,,
Coba menandai makna hadirmu,,
Aku hadir bersemayam di setiap doa ,,
Mengintipmu dari sudut jendela,,,
Menatapmu walau kau tak mengharap,,,
Coba meraih kesan senyumu,,,
Ah,,,,,, Dari ketulusan hati,,,
Tertumpuk sejuta kata,,,
Walau keluh tak terucap,,
Di sanalah tersimpan sebuah harapan,,
Salam sejahtera untukmu,,
Tergenggam bahagia bersamanya,,
Merajut cinta ,kembang asih bermekaran,,
Dari sajak, terangkai sebuah kado untukmu..

Oleh : Kejora 88

21 Feb 2013

Buatmu..


Sempurnalah cinta buatku
tandas selalu meski tanpa renyah bumbu
musim_musim menuainya
bagai kotak upeti di dasar hati
kerap memenuhi

Tiba_tiba saja senja teduh
seakan luruh di matamu
saat ini aku bersumpah tengah melihat jejak surga
di situ

Tanpa sesuatu,
aku hanya punya sepetak ruang untukmu
sampai kapanpun

Oleh : Langit Putra Penarosa

Hijaumu


Kuterdampar dalam dekapan nuansa hijau
saat ku mengembara dirimba hati
begitu sengau deraan galau
mengiris perlahan lapis demi lapis asa yang menjernih

dalam dekapan nuansa hijau
kubersua seraut wajah
dekap luka lamaku yang menganga
perlahan sembuhkanku, buat ku terlupa akan kan masa lalu

walau hijaumu tak terjamah jemariku
sungguh keteduhannya bersemi diruang-ruang qalbu
walau senandungmu tak terdengar
telah kau getarkan dawai hati begitu hingar

wahai sang waktu kumohon, berhentilah sejenak untuku
hanya untuk berjumpa dengannya
walau tak kan pernah kumiliki keindahannya
ku hanya ingin berkata, aku terdampar dihijaumu

hijaumu hidupkan kematian ragaku
hijaumu pecahkan sejuta kesedihan dikepalaku
hijaumu buatku kembali menyadari aku masih punya
cinta yang dapat kubagi tanpa segala kepalsuan

Aku terdampar dihijaumu dan tak dapat kembali lagi .....

Oleh :

Andi IB Putra

17 Feb 2013

Puisi Ranting Untuk Daunnya


Selalu ku amati rasa cinta dalam keusangan..
Harmonis, sesuai alur takdir..

Adalah rasa cinta debu pada kaca..
Aku sangat tau itu..

Lantas, bila kebencian telah ditulis peri tertuju kurcaci,,
kenapa rindu lagi-lagi mengganggu keyakinan hati untuk melupa ?

Seperti terlalu cepat dia ada..
Lalu pergi seketika..
Padahal tak pernah ada rencana untuk bertemu dan terpisah antara ranting dan daun..
Hanya musim yang tau..


Yea..
Aku sang ranting yang berpuisi..
Bait yang tertuang adalah melodi tak berbunyi,,


ini tentang kemana daun dihempas angin..?
Atau kemana diri dihempas sepi..

Serpih-serpih gemintang jatuh mengelabuhi mata untuk berkata mimpi yang masih ada..
Aku tau aku sedang didalamnya,,
sangat jelas..


Ketika aku harus berjalan dalam gelap,, sudikah mimpi menjawab rindu..?


Tuhan,,
kelana sejauh apa..?
Bertanyalah hati pada yang punya cinta..

Kesunyian ini terlalu indah..


Daun ku,,
berserilah selepas aku patah..
Aku tak sanggup menggenggam mu lagi..

Aku tau, kita pernah punya mimpi menua bersama..
Sampai pada waktunya, terlerai kepal jemputan takdir..

Bukan salah angin..
Tapi salahku yang ketika badai mengoyak mu dari genggaman ku,,,
aku hanya bisa melihatmu terlepas..


Terlepas Jauh,,
tak lagi tergapai..


Oleh :
Dennis X-Fals Liverpudlian