5 Mar 2013

Fatwa Siapa ?


...Sungguh, pernah tertulis di atas kertas
jabaran cinta empat berbaris empat
hingga ber-urut berjumlah dua belas

...Tak ada rindu yang meranggas,
...tak ada luka yang tergagas,
...hanya keindahan yang terbias

..Takjub, aku! karena di sini
saat hati dilindas batas
rindu itu tak pernah entas
luka itu malah terasa smakin tegas
bias indahnya malah terlihat samar, serba tak jelas

...Bagaimana mungkin
seseorang mampu menganyam fatwa demikian ringkas
bahwa cinta selamanya
kan berbuah semanis Nanas...???

Oleh : Langit

Tunggu Aku


Kabut tipis mencumbu mesra puncak bebukitan
saat dingin hadir perlahan dilembah bunga keabadian
kupacu motorku diantara pematang sawah dan anak sungai
berkejaran bersama sang waktu yang tak mau berdamai
berlari mengejar bayang indahmu menjelma diseluruh sumsumku

Peluhku yang berjatuhan
asa yang membumbung tinggi ke awan
cinta yang mendesak dada membuat jantungku terhenti
wajahmu yang semakin menghilang dipucuk pinus dan meranti

Satu pintaku ... komohon .. tunggu aku ... kumohon ....
walau kuharus berlari dengan penuh luka
walau kuharus melangkah dengan tetesan" darah yang tersisa

Untuk menemuimu duhai kekasih ...
seandainyapun kau harus pergi tinggalkan mimpi ini ...
aku katakan padamu dengan pasti ...
aku telah bahagiah pernah memohon padamu untuk menanti ...

Semua perjalanan
seluruh rintih tertahan
setiap tetesan sukma meradang

Ku pinta sekali lagi padamu ...
tunggu aku ......

Oleh : IB

Syahadat Cinta


Agung perasaan menjulang tinggi..
Menjemput Laksana turun dari negeri di awan..
Singgah disatu titik bumi, tatkala bocah pemimpi riang bernyanyi..

Apabila dia tersenyum, sungguh damai hati ibarat kabut berjalan pelan menyingkir dari taman..

Tatkala ia menangis,, benar tersayat batin serupa hujan tak diundang renyuh mengoyak dedaun..

Mungkin Tuhan mengutus bidadarinya dihadapanku saat ini...
Hahaha..
Sekedar harap terselubung konyolnya lelucon..

Hati telah 'bersyahadat'..
Memilih pemiliknya, seperti aku bersyahadat untuk Tuhanku..

Sementara ini bagian dari mimpi,,
harapkan pengertian tuhan untuk mencabut sekat diantara kotak perasaan yang masih sembunyi...

Oleh : _Aku_

Debu


Jikalah benar cinta telah merobek-robek sisa angin
lalu lutut siapa yang mesti gemetar
menghantar doa-doa
di subuh buta?

Jikalah benar rindu telah
melebamkan kata paling akhir

Lalu bening siapa yang meratap lunta
bergantang-gantang diperah pinta?

Sehangat tetas janji
sebentang batas tepi

Aku hanya serak menyeru
lalu sirna serupa debu...

Oleh : Langit

3 Mar 2013

Rindu Untuk Kembali


Di sini aku menemukanmu,,,
di sela riuh gelak tawaku,,,
yang menggema pada dinding2 batu,,
dan tebing2 jurang perut gunung,,,
memekik sendiri di sela riuh sanjungmu,,
aku terpaku sendiri,,
demi menapaki jejak yang tertinggal,,,
yang masih tersisa di sela rerumputan,,,
hampir kering terinjak langkah waktuku,,
yang hampir saja usang,,,
ingin aku kembali menapakimu,,,
menyapamu penuh hangat,,,
dalam siulan angin yang menggelitik dari setiap kemegahanmu,,,
tajam mataku,,menatap liukan dari setiap plepah sawit melambaiku,,
aku merinduimu ,,,
dari setiap jejak kenanganku ,,
saat ketika,,
kau sediakan seteguk air pelepas dahagaku,,
masih terasa aliran itu,menyelinap membasahi di setiap pori2 ku,,
aku musyafir yang pernah menyinggahimu,,,
aku musyafir yang pernah menapakimu,,
dan aku akan kembali menjadi musyafir tuk menikmati kemegahanmu,,
dari selatan katulistiwa aku berharap,,
rinduku membawaku ,kembali kepadamu,,

Oleh : Kejora 88

Mimpimu


...Engkau sedang tidak disaksikan Bulan, bagai perasaanmu, seakan kau Penyanyi Dangdut kawakan, yang punya goyang pinggul bagai Trio Macan, engkau hanya bersamaku dijalan..!

...Engkau sedang tidak disenyumi malam, bagai perasaanmu, seakan kau ini seorang Bintang, di atas Bus-Bus angkutan, engkau hanya bersamaku tuk membagikan Tembang pada penumpang secara bergiliran..!

...Engkau cuma memiliki suara pas-pasan, dipadu dengan petikan Gitar sialan, yang Senar-nya lari kiri-kanan..!

...Setelah usai se-lagu, kitapun terburu-buru meminta kepingan, untuk secepatnya kembali mengejar Bus yang datang..!!!


Oleh : Langit

Selamat Jalan Sobat...


Tak pernah bisa sempat kau titip ceritamu,
Pada siapa saja, sekali-pun padaku,
Semua kau benamkan dalam empedu,
Menyusun hari-harimu pada parsel bisu...!

Dulu, saat pinangan angin kemarau lalu,
Membuncah-buncah hingga sampai menguliti bungkammu,
Rindu padang hijau yang kau ceritakan bagai peluru,
Hanya berdesir, setelah itu lenyap dalam pijakan waktu,

...Kini kau pergi lebih dulu,
Ber-sua maut di ujung pulau itu,
Torehkan goresan panjang pada kitab berkilau,
Bersama cintamu, -cintaNya padamu...!

....Selamat jalan, sahabatku...!
Kita 'tlah banyak berguru,
Dalam diam-mu, dalam senyum-mu,
Semoga engkau menemu,
Rengkuhan Dzat yang tak pernah putus menyayangimu...!

Rest in peace......

Oleh : -Langit-

Ku Kembalikah "Surga" mu


Aku menatap mu dalam-dalam..
Seperti ada yang ingin aku temukan..
Tak pernah berubah..
Mata ku tetap tajam sebagai sepasang mata yang pernah bersamamu..

Lamat-lamat kau beralih..
Pertama, jelas..
Kemudian seperti mozaik,,,
lalu abstrak..
Terakhir,, legam tak berbinar.

Surga..?
Hahaha... Nampaknya kita pernah membicarakan itu..
Disuatu petang,, ketika sabit malu memerah wajahnya,,,
melihat kemesraan kupu-kupu muda yang baru lepas dari cangkang kepompong lugu..

Yea... Itu surga kita..

Saat kepolosan memimpin perjalanan,,
ketika keterbukaan menjadi prinsip sederhana..
Segalanya indah..

Kali ini,, tak ada lagi 'surga' kita..
Yang ada cuma 'surga' kalian..

Menangislah batin dikandung realita..
Bahkan,, mimpi terindah pun akan berpihak pada kesakitan ketika tersadar..

Andainya titian harus dilaksanakan,,
maka, ku kembalikan 'surga' mu..!!
Biar semakin indah dan sempurna 'surga' kalian..

Lalu aku tetap memiliki dunia ku,,
meski tiada bernuansa surga,,

Seperti ketika aku bersamamu...

Oleh : _aku_

Terkutuklah Kesepianku


Aku fikir rasa ini dangkal..?
Tidak..
Aku kehilangan nafas,,
tenggelam..

Boleh ku sebut ini rindu dalam..?
Sesaknya menghukum hati...
Sakitnya mengecam nurani..

Adalah rindu tanpa pertemuan..

Terkutuklah kesepianku..!!
Kekecewaan terindah dalam judul "menanti salju didanau rindu"...

Sebagaimana sajak yang ditulis kayu kepada api yang memang menjadikannya abu..
Yea,, itu benar.

Kadang, tuhan memang mempertemukan aku dengan seseorang itu cuma satu kali..

Seperti dedaun yang bertemu embun hanya satu kali setiap paginya,,
dan tak pernah ada lagi skenario pertemuan yang sama esok harinya..

Ku kirim lirik ini kepada bayu yang bersenandung..

Semoga sampai diambang pintu rumahnya,,
mengetuk dengan perasaan,,
lalu menyampaikan segala pesan yang ku titip..

Biar dia tau,, betapa sesaknya merindukan seseorang...

Oleh : _aku_